Ibu Arti Hidupku
"Kak, jangan lupa loh, adikmu di jemput. Pulang sekolah langsung jemput, biar gak lama di ibu—pengasuh."
Ingatan itu terpecah, berubah menjadi fragmen-fragmen tak kasat mata.
Ku pandang hamparan langit senja yang basah sore ini. Indah.
"Dek, coba lihat langitnya! Bagus sekali yaa." ku arahkan bayi dalam gendonganku melihat hamparan senja yang indah.
Ku dudukkan adikku—Prabu pada baby walker biru mudanya dan segera menyiapkan peralatan mandi untuknya. Peluh bercucuran membasahi badanku saat memandikannya.
Selepasnya kupaikan pakaiannya dengan telaten,"Sekarang pake baju dulu, setelahnya baru tidur. Oke?" Tentu Bukan hal yang mudah memakaikannya pakaian, namanya juga bayi. Perlu hati-hati.
"Tak lelo, Lelo lelo lek geng. Anak lanang iki apen turu~" ku elus surai hitam tipisnya dengan lembut. Perlahan-lahan matanya terpejam tertidur pulas.
Ditidurkannya adikku di Kasur secara perlahan. Seusai itu aku beralih mengurusi adik pertamaku—Sultan Namanya. Dia berusia 4 tahun selisih denganku 11 tahun.
“Kak, hari ini ngaji?” tanyanya.
Kupakaikan setelan baju ngaji miliknya, “iya. Tapi sebelum berangkat makan dulu, ya! Kakak sudah gorengi nugget dan sosis.” Ujarku.
“Tapi sambil nonton youtube ya, kak.” Kubalas anggukan.
Sambil menunggu azan magrib berkumandang, kugunakan untuk menyuapi Sultan. Kumandang azan terdengar tak lama kemudian. Makanan adikku sudah tandas dimakannya. Setelahnya Sultan menyalimiku dan berangkat untuk mengaji.
Selagi adikku yang bayi tertidur aku pergi untuk sholat magrib. Tak jauh darinya aku laksanakan kewajibanku sebagai hamba Allah.
“Ya Allah... Laila capek, tapi Laila harus kuat! Untuk adik dan orang tua Laila. Kuatkan Laila yaa Allah.” Bulir air mata membasahi pipiku.
Sudah menjadi kebiasaanku curhat kepada sang pencipta alam semesta. Hanya kepada-Nya lah aku mencurahkan isi hatika. Suka maupun duka. Hanya Allah lah terpat aku curhat yang paling nyaman. Dan berkat Allah lah aku masih kuat menjalani hari-hari ku hingga kini. Makasih ya Allah.
Cklekk
"Assalamualaikum, Mama pulang.”
Kudengar Langkah kaki mendekat, “Kak, Mama belikan kamu Sempol dan Buah, loh. kamu bilang mau bikin salad buah seperti di sosmed.” Ujar mama menunjukkan barang belanjaannya.
Dengan cepat ku usap air mata yang membasahi pipiku, "Wah, Beneran? Makasih, ya Maa." Ucapku tersenyum.
Kurapihi peralatan sholatku dan segera menaruh barang belanjaan mamaku.
Mama balas tersenyum,"iya, sama-sama. Nanti setelah beberes dan mandi ke kamar mama, ya kak!” seru mama.
“Siap Ma.” Balasku.
Setelah semua pekerjaan rumah terselesaikan aku segera menghampiri mamaku di dalam kamarnya. Badanku terasa lebih segar seusai mandi. Rasa cape pun sedikit mengurang.
Saat ini aku sedang terduduk di pinggiran Kasur. Aku memijat tangan mama dengan telaten. Kata mama pijatanku enak. Maka jadilah kalo mama cape aku yang memijatnya.
"Kak!” Mama memanggilku lembut.
Aku mendongakkan pandangan. Alisku terangkat seolah bertanya.
“Mama mengerti kamu cape, kak. Mama minta maaf yaa.” Ujar mama mengelus lenganku.
Aku tersenyum getir, “Gak papa ma. Laila juga mengerti mama juga capek. Bahkan mungkin lebih dari cape.” Ku tundukkan pandangan pada jemari mama yang ku pijati.
“Makasih, ya kak. Sudah mau mengerti kondisi keluarga kita. Andai mama punya duit banyak mama tidak akan menaruh kamu dalam posisi seperti ini, kak." Ku tunduki Pandangan. Seolah fokus memijat. Padahal sebenarnya mungkin mataku sudah berkaca-kaca.
Tangan mama mendekapku dalam pelukannya. Aku tidak sanggup membendungnya lebih lama lagi. Air mataku melebur dalam dekapan hangatnya.
“Kita sama-sama berjuang, ya kak. Hidup memang melelahkan. Semua orang pun merasakan hal yang sama. Allah tahu kamu kuat, kak. Mamapun paham kamu pasti sanggup melewatinya." Mama mencium keningku lembut.
“Makasih, ya, mama dan papa sudah berjuang untuk kita. Maaf kalo aku sering ngeluh.”
“Iya, Sayang. Mama paham. It’s okay.” Tangan mama meusap surai hitam ku penuh kasih sayang.
-------
Dari mama aku belajar banyak hal mengenai hidup. Mama membentuk diriku menjadi wanita yang hebat. Tidak pantang menyerah dan pekerja keras. Berat Memang menerima seruannya dulu, tapi hasilnya sangatlah besar bagi diriku sekarang.
Makasih mama, tanpamu aku bagaikan manusia tanpa arah. Aku mencintaimu.